Jumat, 11 Maret 2016

Kami Menolak LGBT

Membiarkan LGBT berarti menyiapkan diri dan bumi tempat kita berpijak
untuk mendapat murka dari Allah SWT.


Ada dua macam tarikan negatif yang mesti kita kendalikan. Pertama Hawa
nafsu, kedua syahwat.


Selama ini dua hal itu kita anggap sama, padahal tidak. Hawa nafsu itu
tarikan yang sifatnya ke arah ego. Sedangkan syahwat itu tarikan yang
sifatnya fisik/material. Silakan cek di Al Qur'an.


Kata syekh Abdul Qadir al-Jailani, puncak dari mempertuhankan hawa
nafsu adalah mempertuhankan diri sendiri, yang tercermin dari ucapan
Fir'aun yang menyatakan dirinya Rabb (tuhan pemelihara).
Sedangkan puncak dari pemujaan terhadap syahwat adalah homoseksual.
(kisah kaum nabi Luth).


Kenapa kita mesti concern menolak LGBT, karena kalau kita lihat di
Quran hukuman bagi para pemuja Hawa nafsu itu beda dengan hukuman bagi
pemuja syahwat.
Pemuja hawa nafsu seperti Firaun, yang dihancurkan itu cuma Firaun dan
tentaranya saja. Kota mesirnya masih tetap ada. Sedangkan pemuja
syahwat itu dihancurkan sampai ke bumi tempat mereka berpijak.
TOTAL!!! Artinya manusia.. kucing dan tikus liar yang numpang makan di
situ ikut terkena bencana. Dan itu bukan hanya kejadian di kota Sodom.
Kita lihat pola yang sama di Pompeii, lalu di sebuah dusun kecil,
Lagetang. Semuanya polanya sama.


Pemujaan terhadap syahwat -> melampaui batas sampai muncul perilaku
homosex -> nunggu bencana.

Bahkan itu juga yang terjadi menjelang kiamat... Dalam hadits,
digambarkan manusia hilang malunya sehingga biasa untuk ngeseks di
pinggir jalan.


Jadi menurut yang kami pahami, perilaku LGBT tidak boleh dibiarkan
begitu saja. Harus kita cegah. Tentunya bukan dengan memusuhi pelaku.
Tapi yang kita cegah adalah tersebarnya paham tersebut. Setidaknya
bertindak agar jelas posisi kita. Misalnya tidak membeli kopi di
Starbucks, atau kalau mampu, melakukan counter campaign atau
penyadaran bagi kaum LGBT.


Sebagai penutup, kami ingin mengutip sebuah kisah tentang
keberpihakan. Di saat Nabi Ibrahim as dibakar raja Namrud, seekor
semut membawa setetes air. Seekor burung kemudian bertanya, "untuk apa
kamu bawa air itu?"
"Ini air untuk memadamkan api yang sedang membakar kekasih Tuhan,
Ibrahim." jawab semut.
"Hahaha... Tak akan guna air yang kamu bawa" kata burung.
"Aku tahu, tetapi dengan ini aku menegaskan di pihak manakah aku
berada". Jawab semut.
(sumber : Dr. KH. Muslih Abdul Karim. Beliau ini salah satu dosen
tafsir di LIPIA Jakarta juga di PTIQ Jakarta)

Tidak ada komentar: