Sabtu, 03 Oktober 2015

Catatan Kecil Sang Narapidana : Permadani Merah

Setahun yang lalu,
ketika hari menjelang
senja,
rembulan tua timbul
tenggelam di balik
awan,
kupaksa bibirku untuk
diam,
seperti aku memaksa
bibirmu untuk diam,
diam dari
pembicaraan tentang
keluh kesah,
tentang benci dan
dendam.


Kau gelar permadani
merah,
setelah adzan isya'
berkumandang,
saat itu langkahku
gontai untuk beranjak
dari kedinginan,
kemalasan yang
berkepanjangan,
ah,
aku baru saja
mengubur bencana,
jadi tak ada salahnya
aku sujud dan
bersyukur,
ditemani linangan air
mata.


Ah,
aku seperti baru saja
dilahirkan,
dari kandungan duka
yang bersusah payah,
membuka mata dan
berteriak memecah
kesunyian,
di sepanjang
perjalanan.


Ah,
aku hampir lupa kau
telah menghamparkan
permadani merah,
dan kau menungguku
untuk menjadi imam.
(Tuhanku, maafkanlah
biarkan kali ini aku
bersujud ditemani
kekasih tercinta)
kau ingin berdoa,
bersamaku
kau ingin kesetiaan,
bersamaku
kau ingin sehidup
semati, bersamaku.


Ku kecup keningmu,
embun perih mengalir
di pelupuk mataku,
engkaulah hidupku,
engkaulah matiku,
engkaulah kekasihku,
engkaulah belahan
jiwaku,
engkaulah segalanya
bagiku.
Dari rahim-mu terlahir
anak-anak kita,
dari tanganmu
tercurah kasih dan
sayang,
dari ketulusanmu aku
mengenal Tuhan.....

Tidak ada komentar: