Kamis, 15 Oktober 2015

Catatan Kecil Sang Narapidana : Aku Tahu Jiwamu Menangis

Aku tahu jiwamu mengangis,
meratap sedih merintih perih,
memikirkan nasib negeri ini.


Aku tahu jiwamu menangis,
negeri ini berguncang berkali-kali,
negeri ini penuh torehan belati,
penuh anak durhaka,
penuh pembunuhan dan pemerkosaan.


Aku tahu jiwamu mengangis,
tapi kau coba tutupi dengan canda dan ketawa,
tak perlu sedu sedan itu,
tak perlu keputusasaan itu,
tak perlu ini dan itu, katanya.


Tapi jiwamu yang menangis sesungguhnya mengerti,
negeri ini akan hancur binasa.
Kau padamkan api cemburu,
kau tusuk pejuang-pejuang suci dari belakang,
bahkan kau corengkan arang di mukamu sendiri.


Dalam kekalutan kau berpetualang,
menebar janji demi setitik kekuasaan,
dan dalam keangkuhan selalu kau katakan : "hukum dan keadilan harus
ditegakkan.........!"
benarkah?


Kau layaknya tuhan,
yang menguasai dunia dari ujung langit hingga ke dalaman samudera,
kau laksana api,
membakar hukum dan keadilan demi kenikmatan sedetik.


Tapi aku tahu,
Aku tahu jiwamu mengangis,
meratap sedih merintih perih,
karena sesungguhnya kau hanyalah setitik debu,
di tengah lautan padang pasir.
Kau tahu negeri ini akan celaka,
tapi kau tak mau menempatkan dirimu di hadapan Tuhan Yang Maha Perkasa.


Aku tahu jiwamu menangis,
dan aku tahu sampai kapanpun kau kan menangis.


16 April 2013

Tidak ada komentar: