Senin, 24 Agustus 2015

Pentingnya Bermazhab

Kadang kita mendengar ungkapan, "kamu mau ikut Imam Syafi'i atau Nabi?",

Ungkapan ini sebenarnya mengandung beberapa tafsiran:

1. Yang mengucapkan merasa bisa memahami semua ucapan dan perilaku
Nabi Muham padahal ia tidak pernah bertemu dengannya.

2. Yang mengucapkan merasa setara kualitas pemahaman dan
pengetahuannya dengan Imam Syafi'i sehingga dengan begitu ia bisa
merendahkan kualitas ulama tersebut.

3. Hanya orang tolol yang berbicara seperti itu. Ucapan itu
menjelaskan bahwa yang bersangkutan tidak pernah berkaca mengukur
kapasitas dirinya.

4. Ungkapan "kamu mau ikut Imam Syafi'i atau Nabi" padahal maksudnya
"kamu mau ikut Nabi ( versi Imam Syafi'i) atau ikut Nabi (versi
gue)"no 1,2 & 3 dari status Kyai Abdi no 4 dari komenan status tsb.


Tambahan, cuma Al Qur'an yang dijamin ke-asliannya oleh Allah SWT.
Sebab dari zaman sahabat (Zaman Khalifah Abu Bakar ra hingga Khalifah
Usman bin Affan ra) Al Qur'an sudah selesai dibukukan. Ada banyak
orang yang hafal Al Qur'an.


Ada pun Hadits tak seorang pun yang bisa hafal seluruh hadits yang di
zaman sahabat jumlahnya bisa mencapai jutaan. Imam Syafi'ie yang lahir
tahun 150 H menguasai sekitar 1 juta hadits. Imam Bukhari yang lahir
tahun 196 H dari 600.000 hadits yang didapat hanya menulis 7.275
hadits atau sekitar 2.000 halaman. Ini tulis tangan lho sebab zaman
dulu belum ada mesin ketik atau komputer. Kalau 600.000 hadits yang
ditulis, itu 200.000 halaman. Bisa gempor nulisnya.


Jadi ada banyak hadits yang hilang di zaman kita ini. Saat ini kita
cuma dapat serpihan-serpihan hadits saja. Dari zaman Nabi ke Imam
Bukhari atau Imam Muslim itu terpaut 6-7 perawi hadits yang mereka
semua tidak maksum. Artinya mereka tekena sifat salah dan lupa.


Karena itu hadits pada zaman Imam Syafi'ie lebih kuat dan lebih murni
dari zaman kita sekarang. Imam Syafi'ie merumuskan hukum Islam dari Al
Qur'an dan Hadits serta praktek ibadah para ulama generasi cucu Nabi.
Bukan berdasarkan pendapat beliau pribadi. Oleh sebab itu Imam Bukhari
dan Imam Muslim mengikuti Madzhab Imam Syafi'ie.


Jadi kalau ada kaum muda akhir zaman yang bodoh tidak mau mengikuti
mazhab Syafi'ie, tapi maunya mengikuti Nabi langsung, itu otaknya
bahlul. Memangnya dia bisa ketemu Nabi langsung? Memangnya dia yakin
hadits yang dia pegang itu asli? Yakin pemahamannya tentang hadits itu
sesuai dengan maksud Nabi?


Keutamaan ulama salaf seperti Imam Syafi'ie itu ini:

Rasulullah SAW bersabda,
"Sebaik-baik manusia adalah generasiku (sahabat), kemudian orang-orang
sesudah mereka (tabi'in), kemudian orang-orang sesudah mereka (tabi'ut
tabi'in)."
(HR. Bukhari no. 6429 dan Muslim no. 2533 hadits ini adalah Mutawatir)


Kaum muda akhir zaman yang gembar-gembor kembali kepada Al Qur'an dan
Hadits tapi meninggalkan jumhur ulama salaf seperti Imam Syafi'ie itu
seperti hadits Nabi di bawah:

Hadis riwayat Ali ra., ia berkata:
Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: Di akhir zaman akan muncul
kaum yang muda usia dan lemah akal. Mereka berbicara dengan
pembicaraan yang seolah-olah berasal dari manusia yang terbaik. Mereka
membaca Alquran, tetapi tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka
keluar dari agama, secepat anak panah meluncur dari busur. Apabila
kalian bertemu dengan mereka, maka bunuhlah mereka, karena membunuh
mereka berpahala di sisi Allah pada hari kiamat. (Shahih Muslim
No.1771)

سيخرج في آخر الزمان قوم أحدث الأسنان سفهاء الأحلام

"Akan keluar di akhir zaman suatu kaum yang usia mereka masih muda,
dan bodoh, mereka mengatakan sebaik‑baiknya perkataan manusia, membaca
Al Qur'an tidak sampai kecuali pada kerongkongan mereka. Mereka keluar
dari din (agama Islam) sebagaimana anak panah keluar dan busurnya."
(HR. Bukhari dan Muslim)

يخرج قوم من أمتي يقرئون القرآن يحسبون لهم وهو عليهم لاتجاوز صلاتهم تراقيهم

"Suatu kaum dari umatku akan keluar membaca Al Qur'an, mereka mengira
bacaan Al-Qur'an itu menolong dirinya padahal justru membahayakan
dirinya. Shalat mereka tidak sampai kecuali pada kerongkongan mereka."
(HR. Muslim)


Meski mengajak kita mengamalkan Al Qur'an dan Hadits, namun akhlak
mereka jauh dari Al Qur'an dan Hadits. Tidak beradab. Suka
menghina-hina ulama dan sesama Muslim.

يحسنون القيل ويسيئون الفعل يدعون إلى كتاب الله وليسوا منه في شيء

"Mereka baik dalam berkata tapi jelek dalam berbuat, mengajak untuk
mengamalkan kitab Allah padahal mereka tidak menjalankannya
sedikitpun." (HR. Al-Hakim)

(sumber : kabarislamia.com)

Tidak ada komentar: