Selasa, 25 Agustus 2015

Pendidikan Yang Sebenarnya

Pendidikan Sejati Adalah Orientasi Hati.
Kecerdasan tidak bisa menjadi jaminan keberhasilan di dalam pendidikan
(tarbiyah). Betapa banyak orang mengeluh karena kenakalan seseorang
yang cerdas. Ilmu yang memadai tidak bisa menjadi jaminan bahwa
seseorang telah benar-benar mendapatkan tarbiyah.


Sebagian kaum Yahudi yang 100% percaya bahwa Nabi Muhammad SAW adalah
nabi yang akan di utus di akhir zaman (karena berita itu telah
termaktub di dalam kitab suci mereka). Akan tetapi di saat tiba waktu
kehadiran Nabi Muhammad SAW ditengah-tengah mereka tidak mudah bagi
mereka untuk menerimanya. Itu bukan karena mereka tidak tahu kalau
beliau itu adalah Nabi yang mereka nanti-nanti. Tetapi karena ada yang
salah di dalam tarbiyah sehingga ilmunya pun tidak membantu mereka
untuk menginsyafi keberadaan Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi. Kesalahan
tarbiyah tersebut menyebabkan kekosongan hatinya dari sifat insyaf dan
akhirnya datang penggantinya sifat takabbur dan dengki kepada Nabi
Muhamad SAW.


Medan tarbiyah adalah di dalam hati, dan karena tempatnya adalah hati,
sulit sekali untuk dideteksi penyakit-penyakitnya. Yang terlahir dari
tindak-tanduk itu hanya pancaran dari apa yang ada di dalam hati.
Tidak mudah bagi orang yang melihat pancaran itu untuk membedakan
apakah itu pancaran yang sesungguhnya atau palsu.


Dua orang yang memakai baju yang sama, bisa saja yang satu berniat
menutup aurat dan berdandan untuk bertemu dengan sahabat sementara
yang satu lagi hanya untuk menuruti hatinya yang penuh kesombongan
atau karena meniru model seorang terkenal dalam kemaksiatan.


Maka hakekat tarbiyah itu adalah membenarkan jalinan kita kepada Allah
SWT dan sesama manusia menuju esensi jalinan yang tertuang di dalam
qalbu. Pergeseran nilai secara perlahan sering terjadi di dalam hati
kita tanpa kita rasa namun tiba-tiba hati kita telah berubah dan subur
oleh penyakit-penyakitnya.

Seseorang yang merasa tawadhu ternyata disaat itu ia telah tersungkur
ke dalam jurang ketakaburan. Yang merasa dirinya lebih baik dari orang
lain adalah orang yang telah mengalami krisis nilai tarbiyah yang
drastis.
Oleh sebab itu para pakar tarbiyah yang sejati dalam terapi pengobatan
penyakit hati di samping menyuruh para siswanya untuk sering mendengar
wejangan-wejangan kerohaniahan tetapi mereka juga melatih siswanya
mujahadah dan riyadloh ( memerangi hawa nafsu). Bahkan tarbiyah dengan
terapi seperti ini lebih mereka dahulukan daripada ilmu itu sendiri.
Sebab ilmu yang tidak dibarengi dengan tarbiyah yang benar hanya akan
menjadikan hati penyandangnya semakin kotor.


Kesadaran seseorang akan kelemahan dirinya adalah kunci keberhasilan
dalam tarbiyah. Bahkan tidak banyak artinya sejuta petuah bagi orang
yang tidak merasa dirinya perlu kepada petuah. Introspeksi dengan
selalu mewaspadai tercemarnya hati dari penyakit-penyakitnya adalah
upaya menghadirkan sifat-sifat terpuji. Orang yang menginginkan
tarbiyah akan selalu membuka hatinya untuk menerima apa saja yang
menjadikan dirinya baik. Ia akan selalu melihat kebutuhan dirinya
kepada resep-resep untuk menghilangkan penyakit-penyakit hati.
Kesadaran yang ada dalam dirinya akan kebutuhannya terhadap resep itu
adalah kunci keberhasilan. Ia tidak sibuk mencocok-cocokkan resep itu
untuk orang lain. Menjadikan dirinya obyek utama. Yang dituju
pesan-pesan moral adalah kesiagaan di dalam menerima tarbiyah.

Wallahu a'lam bishshowab.

Sumber : buyayahya.org

Tidak ada komentar: