Minggu, 26 April 2015

Perempuan Indonesia, Maju Bersama, Berjuang Bersama

Semua orang pasti tahu dan mengakui bahwa semua manusia, laki-laki dan perempuan terlahir dengan derajat dan martabat yang sama. Akan tetapi dalam kenyataannya masih saja dijumpai ketidakseimbangan hubungan antar individu, kelompok dan masyarakat yang lebih luas lagi secara sistematis menyebabkan timbulnya ketidakadilan dalam berbagai aspek kehidupan; ekonomi, politik, hukum dan sosial budaya. Salah satu contoh saya sendiri, untuk mendapatkan kesempatan mengambil doktoral diluar negeri harus mengalami dua kali pending karena pertimbangan yang sama-ama berat, Pilihan individu karir ataukah pilihan tanggung jawab atau sosial. Tingkat perempuan untuk melakukan pilihan dan keputusan sosial jauh lebih besar dibandingkan dengan pilihan-pilihan interpersonal pribadi, meskipun demikian akhirnya setelah segala sesuatunya sudah menjadi matang secara kultural maka kegairahan akademis tetap menjadi visi yang tidak pernah berhenti. Melakukan kegiatan sosial dan pendampingan di wilayah pesisir dan kota urban merupakan prioritas peran-peran sosial-kultural disamping `ibu` penjaga kualitas ekonomi dan rumah tangga.

Perempuan tetap menjadi fokus utama peran-peran ekonomi keluarga, di wilayah pesisir mengapa ekonomi jauh lebih tertinggal dibandingkan perkotaan atau kemiskinan urban, karena mayoritas wanita urban bisa berfungsi ganda dengan sumber ketenagaan kerja yang cukup memadai. 10 tahun lebih kegiatan dan asosiasi yang kita lakukan bertumpu pada partisipasi perempuan dan advokasi perempuan,  karena dalam salah satu sub sistem bidang ketenagakerjaan, ketidakadilan sistemik tersebut dapat memperlihatkan realitas kongkrit bahwa kaum perempuan masih dipekerjakan secara tidak proporsional dalam lapangan kerja yang diposisikan pada kedudukan yang masih rendah, bergaji rendah dan berketerampilan rendah membawa implikasi yang tidak menguntungkan bagi kaum perempuan itu sendiri. Labelisasi perempuan diperuntukkan hanya untuk bidang-bidang pekerjaan tertentu yang akan membatasi kebebasan perempuan dan sangat diskriminatif.

Sementara dari sisi pekerja anak, kondisinya sama dengan pekerja perempuan, dimana kedua makhluk Tuhan ini sangat rentan terhadap perlakuan eksploitatif. Perkembangan industrialisasi di berbagai sektor dan kesenjangan ekonomi di masyarakat  khususnya di wilayah-wilayah kota besar, adalah dua di antara beberapa faktor munculnya pekerja anak dan perempuan yng tidak terkendali, baik di perkotaan pinggiran atau wilaya-wilayah kumuh sentral kota urban. Anak-anak terpaksa bekerja karena berbagai alasan, kemiskinan adalah salah satu penyebab yang paling menonjol : Konsekwensinya, hidup sehari-hari merupakan perjuangan yang berat bagi keluarga miskin. Oleh karena itu anak-anak terpaksa ikut bertanggungjawab terhadap keluarganya, bekerja di luar rumah dengan resiko yang berat melakukan pekerjaan-pekerjaan yang berbahaya bagi kesehatan dan menghambat perkembangan hidupnya, trafficking, pekeja sexual,hiburan malam bahkan gelandangan, menjadi kondisi sosial yang sulit terelakkan.

Tidak ada komentar: