Senin, 23 Maret 2015

Mendung, Suram dan Kelabu

Aku di perjalanan, memandang alam sekeliling yang kelabu, pada langit
teduh mendung bergulung-gulung,
dimanakah matahari menyembunyikan sinarnya,
agar bumi ini tak melulu tersiram air hujan,
tapi inilah perjalanan alam,
berjalan sesuai kodrat dan irodatNya,
meski manusia kerap menodainya dengan hamparan pembunuhan dan
pemerkosaan, memberangus belantara dengan alasan pembangunan,
padahal penjarahan kekayaan alam penuh birahi durjana,
menguras ladang-ladang tambang menjadi kering kerontang dengan alasan
demi kesejahteraan seluruh bangsa,
ya,
seluruh bangsa di luar sana,
entah berbendera apa… aku lebih baik jadi orang bodoh saja,
karena banyak orang-orang pintar telah kedaluarsa,
lupa bersujud dan beristighfar,
mungkin telah merasa banyak berbuat amal kebajikan,
dan merasa pintu sorga telah terbuka di depan mata.


Jauh di ujung barat sana, negeri muslim bergolak, negeri mesir katanya,
seingat saya, begitu religiusnya seluruh rakyat jelata,
ulama-ulama besar lahir dari sana,
dari universitas al azhar katanya,
namun sayang seribu sayang,
negeri yang diberkahi oleh Tuhan harus dipimpin oleh orang-orang macam
husni mubarok katanya.


Seingat saya husni mubarok begitu memuja negara israel,
memuja bagai seorang budak di telapak kaki tuannya,
darah dan air mata rakyat Palestina menjadi tumbal kekuasaanya yang
sebenarnya tidak pernah kekal.


Kalau Negeri Mesir sekarang bergolak, memang sudah waktunya yang haq
harus ditegakkan,
dan yang batil segera dimusnahkan,
ini negeri milik Tuhan,
tak pantas manusia berbuat sewenang-wenang,
ini mendung juga akan sirna,
berganti sinar yang cemerlang.
Ini kedurhakaan akan musnah,
berganti keadilan yang dijanjikan…

--


© Copyright - All Rights Reserved

Tidak ada komentar: