Kamis, 01 Juli 2010

Mencintai, Berawal Dari Keyakinan





2004,
Siang itu istriku duduk melamun di beranda, aku dekati dia dan
bertanya mengapa ?
Dia hanya menggelengkan kepala tanpa mengeluarkan sepatah kata.
Tapi aku mengenal lahir batin istriku, aku tahu keresahannya, tahu
gejolak keinginannya. Anak-anak sudah semakin besar, kebutuhan ekonomi
harian kian bertambah, dan dulu sebelum krisis moneter aku adalah
seorang buruh pabrik dengan gaji pas-pasan namun masih cukup untuk
memenuhi kebutuhan rumah tangga. Namun semenjak krisis moneter, pabrik
tempatku bekerja bangkrut total, dan seluruh karyawan terkena PHK.
Istriku yang dulu satu pabrik dengan saya juga ikut terkena imbasnya,
sama-sama menjadi pengangguran.
Istriku memilih tinggal di kampung untuk membesarkan anak-anak bersama
Bapak mertuaku yang saat itu sudah amat tua.
Sesungguhnya hidup di kampung itu lebih tentram dan nikmat kalau kita
tidak punya pikiran dan keinginan yang neko-nekn, karena kebetulan
istriku mempunyai sepetak sawah
yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup selama musim tanam hingga
menunggu panenan. Namun hidup tidak melulu makan dan minum tok! Hidup
juga ingin punya status, entah apa status yang ingin aku gapai bersama
istri dan anak-anakku, hampir setiap saat selalu bertambah untuk
meningkatkan status tiap kali satu status terpenuhi dengan status yang
lain. Tapi aku dan istriku selalu belajar <b>nerimo ing pandum</b> dan
tidak terlalu memaksakan diri dalam meraih keinginan hidup.

Tapi gurat-gurat keresahan istriku semakin jelas ketika aku tiada lagi
merantau ke Jakarta. Ketika itu aku bekerja serabutan di kampung,
menjadi apa saja, yang penting dapat uang halal dan berkah.
Aku tanyakan pada istriku, Kamu mau apa ?
Mau dagang, jawab istriku.
(bersambung...)


Tidak ada komentar: