Selasa, 15 Desember 2009

Kebahagiaan, Demi Siapakah

Jakarja,
ketika menjelang mata hampir terlelap
ketika hujan baru saja reda
masih juga menunggu rembulan sebesar mayang
menunggu sinar keperakan semburatkan keindahan cakrawala.


Jakarta,
ketika itu aku bimbang
pertemuan jiwa dan jiwa
mestinya mengalunkan dendang keindahan
merengkuh damai dan kebahagiaan
seperti curah hujan
membasahi bumi gersang,
tapi tidak
jiwa dan jiwa saling curiga
kata dan kalimat meluncur menikam
pedih merusak kebahagiaan.


Jakarta,
ketika kebahagiaan itu mesti diperjuangkan
dengan tetesan keringat dan air mata,
toh tidak cukup !
Seperti ada panggilan dan bersumpah
untuk memerah darah hingga tetes penghabisan
hingga aku ragu
kebahagiaan itu untuk siapa
kebahagiaan itu milik siapa.


Jakarta,
yang memisahkan Ibunda dari kasih sayang
yang berkata ini hidup dan kehidupan
ganas dan mencekam.


Jakarta,
di puncak gedung ini aku bertanya
kebahagiaan,
demi siapakah ?

[tags Jakarta, hujan, bulan, mayang, kebahagiaan, demi siapakah ?]

Tidak ada komentar: