Senin, 28 Desember 2009

Jejak Yang Hilang

Jejak yang hilang

Menuju kotamu
di antara gerimis dan senja yang kelabu
menelusuri deretan gedung-gedung
tinggi, kekar dan kelihatan angkuh
hingga terlintas di hati andai tangan ini mengetuk
masih adakan kesempatan bagiku untuk dibukakan pintu ?
Lapak-lapak kaki lima itu
mungkinkah saudaraku ada di dalam sana
andai ya
oh betapa malang kiranya
karena penggusuran itu hanya menunggu detik tiba
dengan deru bolduser, menebar genderang perang
memberantas kemiskinan
memberantas kebodohan.

Senja itu
kucari jejak-jejak yang hilang
bukan diguyur air hujan, bukan
kekasihku telah hilang
nyanyianku tak lagi berkumandang
kasih sayangku tak lagi ramah
perjuanganku tak lagi indah,
terjajah
ternoda
runtuh berserakan di kota tua.

Gerimis masih berkepanjangan
ketika seruan adzan berkumandang
di lantaiMu hamba berserah badan
bersujud menangis sedu-sedan
benarkah telah hilang jejak-jejak harapan
tempat tumbuhnya bunga-bunga kasih sayang ?

Anak kecil tidur terlena
tiada menangisi ibunya yang kecewa
Mengapa harus terlahir dari cinta
jiwa-jiwa yang tak berjiwa
mengapa harus mengharap menghiba
pada jiwa-jiwa tak berjiwa pula.

Kasih dan sayang
ku kais di antara puing-puing berserakan
meninggalkan jejak-jejak kaki yang terluka
menorehkan darah
dan air mata...

[category oase iman]
[tags jiwa-jiwa, tak berjiwa, gerimis, gedung, kota]

Tidak ada komentar: