Sabtu, 12 Desember 2009

Hati Yang Berdebu

Jakarta,
ketika telah sampai aku di sebuah tanah lapang
ketika setia menanti turunnya hujan
menunggu Rahmat kapan akan tiba
angin semilir menyentuh kulit mukaku
kulit yang semakin lama semakin tua.

Di ujung lapangan sana
suara hingar bingar musik band memekakkan telinga
mengapa
harus aku tiba sampai di sini
menikmati alunan musik
menerawang orang yang lalu lalang
menebak dan menerka siapa mereka.

Toh di Jakarta ini
aku juga bagian dari mereka
mengais rejeki
menghitung receh demi receh
berharap kelak menjadi kepingan emas
atau butir-butir intan berlian.

Tuhan,
benarkah perjalanan ini
bukankah sudah seharusnya hamba sujud dan tafakur
memuja dan bersyukur ?

Tiap helaan nafas ini
bukankah telah kau catat sebagai nikmat ?
Jangan biarkan hidupku ini penuh laknat
jangan biarkan hati ini lusuh dan berdebu,
hamba hanya berdoa
bermunajat dan meratap
semoga selaksa dosa ini mendapat ampunan.

[category munajat]
[tags Jakarta, Tuhan, hati, meratap, berdoa, ampunan, karunia]

Tidak ada komentar: