Selasa, 23 Juni 2009

SUARA

Ku dengar kau seperti bersuara
dari jauh mengucapkan salam.


Seperti angin yang semilir
kau belai rambut sutra ini.


Di beranda ini kemudian aku tercengang
sudah lama, kau telah tiada.


Di taman itu pernah ku tanam kembang melati
tapi tak pernah tumbuh dan berbunga
seperti tak pernah kunikmati indahnya bunga-bunga pengantin
kemarau ini begitu kering
jauh di lereng gunung, hutan itu terbakar
seperti kenangan itu membakar diriku, hangus dan runtuh
semestinya inilah hari kemerdekaanku
dan ku kibarkan bendera kemenanganku
tapi hanya mimpi.


Jauh di sana mungkin kau menangis
tapi sebenarnya akulah yang menangis
merintih dan perih.


Ku dengarkan kau seperti bersuara
sebuah nyanyian tentang cinta dan kerinduan
tentang sepucuk doa
tentang darah dan air mata
yang terlanjur tertumpah, tanpa makna.


Suara itu
hanya kau yang punya
hanya aku yang mendengar
karena sukmamu
jiwa ragaku.

Tidak ada komentar: