Jumat, 19 Juni 2009

Kelana

Ku tinggalkan kampung dan kasih sayangmu, bundaku
dengan kepal doamu ku langkahkan kakiku
bukan untuk pergi jauh, bukan
tapi pergi berkelana untuk kembali.

Terima kasih bundaku
telah kau ajari aku untuk tidak mengeluh
mengeja hidup meramahi keganasan musim
kapalku jangan sampai kau retak dindingmu
karena kembaraku masih teramat jauh
menelusuri gelombang menyeruak lautan
menyusuri rimba menerjang ilalang
di sini perjuanganku amat panjang
membahagiakanmu yang telah bersusah payah melahirkan.

Berhari-hari tubuh bercucuran peluh
dulu kau kisahkan padaku tentang kakekku
yang berjuang berperang demi kemerdekaan bangsaku
mengusir penjajah yang menginjak dan menghina negeriku
bertahun telah berganti
harum nama kakekku laksana kembang melati
sukma perjuangannya seakan berteriak,
..hancurkan para koruptor !
Singkirkan manipulator !
Bidikkan pelormu menembus jantung diktator !
Sucikan negerimu dari pejabat-pejabat berjiwa kotor !


Bundaku,
mudah berhias dan berdasi
kini segala cita telah ku raih
tapi aku kembali membawa hati perih
seperih hatimu ditinggal kakekku mati
betapa banyak orang berkata berbicara
tentang keadilan dan indahnya kasih sayang
betapa banyak dendang nyanyian tentang kemelaratan
tentang penindasan, penggusuran, kekufuran,
bundaku
disini, di rantau ini
yang berbicara tetap berbicara
yang tertindas tetap tertindas
yang durhaka makin merajalela
yang bernyanyi tetap bernyanyi
yang perih makin merintih.

Bundaku,
kepal doamu masih kupegang
aku
tak pernah berputus asa.

Bogor
10 Juli 1997

--
Created By
Muhammad Saroji

Tidak ada komentar: