Minggu, 14 Juni 2009

Hingga Aku Kembali

Meskipun mawar dalam gelas itu layu, sayangku
tidak berarti aku layu seperti bunga itu
tunggulah aku di beranda sunyimu
dari rantau aku kan kembali.

Cinta itu abadi, sayangku
nanti di halaman rumah kita tanam bunga mawar kembali
kita pupuk dan kita sirami
agar selalu tumbuh dan mekar bersemi.

Kau mesti tahu, sayangku
betapa beratnya merangkai kata-kata
di dada ini aku ingin seperti seorang penyair
yang berbicara satu kata seribu makna
berpetuah bagai pertapa tua
bersabda bagai mutiara berkilauan.

Sayangku
tak dapat ku bayangkan ketika sebutir intan di lumpur adalah tetap intan
tetap cemerlang meski terbenam di kegelapan
penyair berbicara dan bertindak
tapi tanpa ragu dan kebimbangan
tiada takut meski darah dan daging dirajam
tetap tegar bagai karang di terjang gelombang
penyair
bercermin dari orang ke orang
mengasah budi menjadi arif dan bijaksana.

Jangan takut, sayangku
meski akal fikiran mengembara jauh di atas awan
rebahkanlah cintamu di dadaku
aku tak lupa kau cintaku seorang
tak ada yang lain, kaulah sayangku seorang
nanti kita mencari kebenaran hakiki
di mana lisanku dapat fasih mengatakan
bahwa kebenaran adalah tetap kebenaran
keadilan adalah tetap keadilan
tak tecampakkan oleh lumpur dan noda
tak tersingkirkan oleh nafsu keserakahan manusia
tetaplah tegar, sayangku
hingga kita semua akan kembali pada Tuhan
yang memiliki kebenaran hakiki.

Bogor
27 Oktober 1996

Tidak ada komentar: