Selasa, 21 April 2009

Senja

SENJA


Senja
ketika ku nikmati semilir angin di puncak tangga itu
di seberang sana matahari semburatkan cahaya lembayung
kau tahu
di dada ini ada harapanku
agar kau tak meninggalkan diriku.


Kau tahu
di dada ini ada cinta yang abadi
di dada ini ada harapan yang suci
senja itu jadi saksi
ketika kau dan aku saling mengeluh
saling mencurahkan perasaan di hati
kemudian hujan turun
deras sekali
dan senjapun hilang berganti malam
kau tahu
ketika itu air mataku deras sekali
menyesali cinta kita
yang tak pernah tergapai
seperti sebait puisi
yang tak pernah menjadi prasasti
kaupun pergi
seperti angin yang semilir ini.


Senja
ketika tangga rumah ini telah tiada lagi
rapuh ditelan lapuk
kau tak pernah tahu
ketika aku berjalan
dan bersandar dari satu cinta ke lain cinta
aku mengembara
berkelana menelusuri debu
berjuang mencari kesucian
mencari kedamaian
mencari kepastian
seperti dulu pernah engkau ceritakan
agar aku mencari sendiri kesucian itu
....tak ku dapatkan.


Senja
di sini aku meramahimu
merengkuhi gerimis satu-satu
kau tahu betapa jemunya aku menanti
kau tahu betapa sepinya hati ini
kau tahu betapa lelahnya jiwa ini
dan kau tahu betapa abadinya cinta ini.


Kau tahu
cinta itu abadi
dan kau tahu
di sini aku menanti.


Pemalang 19 Oktober 2002

Tidak ada komentar: