Senin, 27 April 2009

Istanaku

Istanaku
tempat aku berbaring dan berteduh
berdiri kokoh di puncak gunung
pilar yang kokoh seakan menyangga langit
singgasana emas
lantai perak
dinding bertabur permata
istanaku
bagai rumah dalam impian.

Istanaku
siapapun tahu
di dalamnya bersemayam Raja dan Ratu
akulah Sang Pangeran
putra mahkota pewaris tahta kerajaan penuh kemewahan.

Istanaku
tempat para abdi mengabdi
tempat para pejabat menghitung pajak
tempat para permaisuri memajang kembang
tempat rakyat kecil menyampaikan keluh kesah.

Istanaku
tapi kali ini dikudeta
tak ada raja
tak ada abdi
tak ada pajak
tak ada kembang
istanaku terbakar
istanaku hancur berantakan
putra mahkota mati
permaisuri binasa
kerajaanku luluh lantak
diterjang perang bratayudha

Puing istanaku
negeri jiwaku
sukma laraku
meratap menangis merintih
betapa galaunya kehidupan
ketika nafasnya terbagi-bagi
antara pengabdian dan pendurhakaan
ini jiwa merintih perih
ketika anak negeri telah mewarisi kekayaan
bukan kekayaan intan berlian, bukan
tapi kekayaan kebodohan
kekayaan kemiskinan
kekayaan kesalahan
kekayaan hitamnya sejarah.

Istanaku
ku bangun kembali puingnya menjadi kuil
tempat jiwa-jiwa mati dilahirkan kembali
tempat wajah-wajah pucat pasi bercermin
menggali kehidupan
dan menggali kematian
dengan kebenaran yang hakiki.

Pemalang
27 April 2009

Tidak ada komentar: