Sabtu, 21 Maret 2009

Muhammad Firdaus Syarifuddin

Di lahirkan anakku dalam keadaan tidak bernyawa apalagi menangis. Dari
dada hingga kepala terlihat membiru,mungkin karena kekurangan oksigen disebabkan tali pusar yang melingkar di leher anakku.
Beruntung Sang Dukun Bayi yang bernama Mbah Manah cepat tanggap menghadapi situasi kritis itu. Dilepaskan dengan segera tali pusar yang melilit leher anakku, tapi anakku masih terdiam tanpa ada tanda-tanda kehidupan. Istriku yang telah kehabisan tenaga setelah melahirkan anakku dengan taruhan nyawanya semakin lemas menghadapi situasi paling memilukan...kematian anakku !!

Tapi puji syukur Alhamdulillah, setelah badan anakku
diguncang-guncangkan dengan keras oleh Mbah Manah, anakku seakan mendapat mukjizat, ia bergerak-gerak dan kemudian menangis sekeras-kerasnya. Separuh badannya yang tadinya membiru kini berangsur-angsur berubah menjadi merah, pertanda aliran oksigen yang mengalir lancar di sekujur badan.

Aku dan istriku lega dan mengucap syukur Alhamdulillah, anakku telah mendapatkan kembali ruh kehidupannya dan terlepas dari kematian. Tujuh hari kemudian kuberikan nama anakku dengan nama Muhammad Firdaus Syarifuddin.

Semenjak kecil sebagaimana umumnya anak-anak, dia kadang rewel dan manja kepada ibu bapaknya. Sampai sekarang sudah kelas tiga SD, tapi masih suka dimandikan dan disuapi kalau makan oleh bapaknya. Teringat
bagaimana ia dilahirkan, akupun dengan sabar dan penuh kasih sayang memandikan dan menyuapi dia kalau makan, dengan harapan nanti kalau sudah besar menjadi anak yang sholeh, berbakti pada kedua orang tua, nusa dan bangsa. Dan teringat akan kisah kelahiran anakku ini, siituasi negara sedang dilanda krisis moneter yang parah, dan saya baru seminggu kerja serabutan setelah hampir setahun menganggur dan hidup dalam
keprihatinan yang luar biasa.

Muhammad Firdaus Syarifuddin, dialah anugerah terindah di saat kami mengalami dampak krisis multi dimensi
yang luar biasa.

Allahu Akbar..!!

Tidak ada komentar: