Senin, 16 Februari 2009

Mengapa Umat Islam Mundur Sedangkan Orang Kafir Maju ?


Saat ini boleh dikata ummat Islam adalah ummat yang
paling tertinggal dibanding ummat-ummat beragama
lainnya.

Ummat Yahudi meski berjumlah hanya 40 juta, namun
menguasai ekonomi dan politik dunia. Mereka bisa
menguasai masjidil Aqsha tanpa perlawanan berarti dari
ummat Islam yang katanya berjumlah 1,2 milyar atau 30
kali lipat lebih banyak dari kaum Yahudi.

Ummat Nasrani di Eropa, Australia, AS, sangat maju di
bidang teknologi dan menguasai negara-negara Islam
secara ekonomi dan politik. Mereka mampu membuat
mobil, kapal selam, kapal induk yang mampu memuat
ratusan kapal terbang, rudal antar benua, pesawat
ulang alik yang mengelilingi bumi, bahkan bisa membuat
pesawat ruang angkasa yang bisa melaju jauh hingga
melewati planet Saturnus.

Bahkan Amerika Serikat dan sekutunya mampu menyerang
dan menjajah dan membunuh ummat Islam di Afghanistan
dan Irak tanpa perlawanan dari seluruh ummat Islam.
Sebagian ummat Islam dengan semangat "Toleransi"
justru bekerjasama dengan AS dan Sekutunya yang
sebenarnya merupakan kafir harbi.

Ummat Islam boleh dikata ummat yang paling miskin,
paling bodoh, dan paling suka bertengkar dengan
sesama.

Padahal zaman Nabi, sahabat, dan beberapa generasi
sesudahnya selama 700 tahun ummat Islam begitu maju
menguasai dunia. Islam berkibar dari Ternate, India, Timur Tengah, Yugoslavia, Albania, Bulgaria, Yunani,
bahkan hingga Spanyol.

Ummat Islam mampu mengalahkan orang-orang kafir,
Yahudi, bahkan 2 kerajaan Super Power saat itu yaitu Romawi dan Persia. Bahkan ibukota kedua negara tersebut, yaitu Constantinople (Istambul) dan Baghdad saat ini tetap berada di tangan Islam yaitu di negara
Turki dan Irak.

Istana Alhambra dengan air mancurnya peninggalan Islam
di kota Granada, SpanyolSemangat jihad ummat Islam begitu tinggi sehingga 200 ribu pasukan Romawi tidak
mampu mengalahkan pasukan Islam yang dipimpin Khalid
bin Walid yang berjumlah hanya 3 ribu orang. Bukannya
tentara Islam yang mundur, justru pasukan Romawilah
yang mundur ketakutan akibat strategi Khalid bin Walid.

Dalam Perang Salib antara ummat Kristen dengan Ummat
Islam yang terjadi beberapa kali dari tahun 1096 hingga 1291 untuk memperebutkan Palestina, hanya perang Salib pertama yang dimenangkan ummat Kristen. Setelah itu ummat Islam yang menang dan berkuasa
hingga abad 20 sebelum akhirnya jatuh ke tangan
Israel.

Dalam bidang ilmu pengetahuan juga begitu. Ibnu Sina
(Avicenna) dikenal sebagai Bapak Kedokteran dunia.
Ketika perang Salib dan Raja Richard the Lion Heart
sakit, tak ada satu dokter Eropa pun yang mampu mengobatinya. Justru Sultan Salahuddin Al Ayyubi yang menyelinap ke tenda Richard yang bisa mengobatinya. Itulah keunggulan ilmu kedokteran Islam saat itu.

Ilmuwan Islam Al Khawarizmi juga mengembangkan ilmu
Matematika seperti Aljabar (Algebra), Algoritma
(Algorithm) yang kita kenal hingga sekarang. Bahkan
angka yang kita pakai sekarang pun merupakan hasil
penemuan ilmuwan Islam yang disebut dengan "ARABIC
NUMERAL" yang menggantikan Sistem Bilangan Romawi
yang sangat tidak fleksibel. Pada saat munculnya Islam, bangsa Barat belum mengenal angka 0 (Nol). Islamlah yang mengenalkan angka itu pada mereka.

Mengapa ini semua bisa terjadi?

Syekh Amir Syakib Arsalan menulis satu buku yang
mengungkap hal ini dengan judul "Mengapa Ummat Islam
Mundur dan Ummat Selainnya Maju?"

Sebab pertama kenapa ummat Islam mundur adalah karena
ummat Islam sudah tidak mempraktekkan ajaran Islam
yang termuat dalam Al Qur'an dan Hadits. Padahal itu
adalah pedoman kita agar hidup bahagia dunia dan
akhirat.

Nabi SAW bersabda: "Aku tinggalkan bagimu dua
perkara, jika kamu berpegang teguh kepada keduanya
kamu tidak akan tersesat selama-lamanya yaitu kitab
Allah dan Sunnah Rasul(hadits)". Ditambah lagi Qur'an sendiri menyatakan dalam surat Al-Furqon ayat 30. Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur'an itu sesuatu yang tidak diacuhkan". Menyoroti masalah ini Ibnu Taimiyyah
mengatakan: "Barang siapa yang tidak membaca Qur'an maka dia telah menjauhi Qur'an, dan barang siapa yang membaca tapi tidak pernah merenungkan
isinya maka dia telah menjauhi Qur'an, dan barang
siapa yang membaca lalu merenungkan isinya tapi tidak
pernah mengamalkan nya maka dia telah menjauhi qur'an pula". Tapi hal iniditujukan kepada orang yang berbeda kemampuan pemahamannya terhadap Qur"an.

Dalam Islam begitu banyak ajaran yang jika dilaksanakan akan bermanfaat bagi ummat Islam sendiri.

Sebagai contoh, Nabi berkata bahwa menuntut ilmu
merupakan kewajiban bagi setiap Muslim lelaki dan
perempuan [Ibnu Majah). Artinya jika kita mempelajari
ilmu yang bermanfaat kita akan mendapat pahala, sedang
jika tidak belajar kita akan berdosa.

Namun kenyataannya banyak ummat Islam yang malas
belajar. Bahkan ada yang beranggapan wanita tidak
perlu sekolah tinggi-tinggi toh akhirnya juga tinggal
di dapur.

Akibatnya ummat Islam jadi bodoh dan terbelakang.

Sebaiknya ummat Non Muslim begitu rajin belajar. Tidak
hanya S1, tapi juga S2, bahkan S3 dan banyak juga yang
tetap belajar meski tidak melalui pendidikan formal
seperti Bill Gates yang meski tidak lulus kuliah tapi
tetap terus belajar sehingga bisa membuat sistem operasi komputer yang dipakai luas di seluruh dunia.

Ummat Non Muslim begitu cerdas hingga mereka bisa
membuat pesawat terbang, kapal induk, peluru kendali,
mobil, komputer, dan sebagainya, sementara ummat Islam karena bodoh nyaris tidak bisa apa-apa.

Nabi juga berkata: "Kebersihan sebagian dari iman." Namun ternyata ummat Islam banyak yang hidup jorok. Bahkan banyak pesantren yang merupakan tempat kaderisasi ulama yang begitu kotor tempat wudlu, kamar mandi, apalagi WC-nya. Saya sempat melihat air yang
begitu kotor dan hijau dipakai untuk berwudlu di pesantren.

Sebaliknya, ummat Non Muslim hidup begitu bersih. Untuk kamar kecil saja, airnya begitu bersih dan jernih. Bahkan mereka bisa mencari nafkah dengan
menjadikan kebersihan sebagai usaha/bisnis mereka.
Sebagai contoh perusahaan Swedia, Electrolux, memproduksi berbagai produk kebersihan seperti Vacuum Cleaner, alat pel listrik, dan sebagainya. Unilever
merupakan perusahaan Multinasional yang kaya dengan
produk kebersihan seperti sabun mandi, shampo (pembersih rambut), dan juga sabun cuci. Mereka jadi bersih dan makmur dengan menjalankan kebersihan yang sebenarnya merupakan ajaran Islam.

Kedua adalah ummat Islam tidak bersatu, tapi berpecah-belah. Padahal ummat Islam diperintahkan untuk bersatu.

Allah sudah mengingatkan kepada kita . QS. Ali Imran :
103. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali
(agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan
ingatlah akan ni'mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu
(masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah
mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena
ni'mat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu
telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah
menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah
menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat
petunjuk.

Nabi Muhammad SAW bersabda: "Akan terpecah belah
umatku seperti terpecah-belahnya Yahudi dan Nasrani
menjadi 73 golongan, semuanya masuk neraka kecuali
kaum yang mengikuti ajaran-ajaranku dan
sahabat-sahabatku".

Pada zaman Nabi, ummat Islam juga berusaha untuk
dipecah-belah dan diadu-domba baik oleh orang kafir
Mekkah, mau pun kaum Yahudi misalnya dengan berusaha
menimbulkan fanatisme suku antara kelompok Muhajirin
dan Anshar. Tapi Nabi berhasil mendamaikan dan
mempersatukan mereka. Seharusnya para ulama yang
merupakan pewaris Nabi harus berusaha mempersatukan
ummat Islam yang terpecah-belah baik dalam kelompok
bangsa/negara mau pun aliran.

Bahkan ummat Islam juga disusupi oleh kaum munafik
yang dipimpin Abdullah bin Ubay bin Salul untuk
memecah-belah ummat Islam dari dalam. Kaum munafik ini
bahkan membangun masjid guna memecah-belah ummat
Islam.

"Di antara orang-orang munafik itu ada yang
mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan pada
orang-orang mukmin, untuk kekafiran dan untuk memecah
belah antara orang-orang mukmin serta menunggu
kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan
Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka Sesungguhnya bersumpah:
"Kami tidak menghendaki selain kebaikan." Dan Allah
menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah
pendusta.

Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu
selama-lamanya. Sesungguh- nya mesjid yang didirikan
atas dasar taqwa (mesjid Quba), sejak hari pertama
adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. Di
dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin
membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai
orang-orang yang bersih. [At Taubah:107-108]

Ummat Islam bukan hanya tidak sholat di masjid itu
(Masjid Dliror), bahkan membakarnya sehingga
orang-orang munafik tidak bisa memecah-belah ummat
Islam.

"Maka mengapa kamu terpecah menjadi dua golongan
dalam menghadapi orang-orang munafik, padahal Allah
telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan
usaha mereka sendiri ? Apakah kamu bermaksud memberi
petunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan
Allah? Barangsiapa yang disesatkan Allah, sekali-kali
kamu tidak mendapatkan jalan untuk memberi petunjuk
kepadanya.

Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir seperti mereka.
Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka
penolong-penolongmu, hingga mereka berhijrah pada
jalan Allah. Jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah
mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah
kamu ambil seorangpun di antara mereka menjadi
pelindung, dan jangan pula

menjadi penolong" [An Nisaa':88-89]

Surat Al Baqoroh ayat 1-20 menjelaskan Muslim yang
lurus, orang yang kafir, dan orang yang munafik. Ini
agar ummat Islam bisa bersatu dengan Muslim yang lurus
dan terhindar dari pecah-belah / adu domba kaum kafir
dan munafik.

Dengan persatuan, ummat Islam tidak terkalahkan. Tidak
hanya kaum kafir Quraisy yang gagal mengalahkan ummat
Islam, tapi juga kaum Yahudi, Persia, dan Romawi.
Mereka akhirnya takluk di tangan pejuang Islam.

Negara-negara Barat maju karena mereka bersatu. Di
bawah kepemimpinan Amerika Serikat dan kelompoknya
yang disebut NATO, mereka bersatu menyerang ummat
Islam di Afghanistan, Iraq, dan juga memberikan
dukungan penuh pada Israel yang menjajah Palestina dan
menguasai masjid Al Aqsha.

Presiden AS, George W Bush mengatakan: "Either with
us or against us!". Berjuang bersama kami. Jika
tidak berarti melawan kami!" Jika tidak turut
berjuang bersama George W Bush, berarti jadi musuh
Bush cs.

Ummat Islam dulu juga begitu. Ketika bin Malik, Hilal
bin Umayyah dan Mararah bin Rabi' tidak ikut
berperang, mereka dikucilkan sehingga merasa berdosa:

"dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan
(penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah
menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan
jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka,
serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat
lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja.
Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka
tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang
maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang." [At
Taubah:118]

Ummat Islam gagal membebaskan masjid Al Aqsha karena
politik adu domba dan pecah belah yang dilancarkan
oleh AS dan sekutunya.

Jika ummat Islam bersatu, tidak mungkin orang-orang
kafir mampu memerangi ummat Islam dan menang:

"Mereka tidak akan memerangi kamu dalam keadaan
bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang
berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara
sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka
itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. Yang
demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum
yang tidak mengerti." [Al Hasyr:14]

Sering ummat Islam ribut dan bertengkar karena masalah
furu'iyah/cabang sehingga akhirnya terpecah-belah
dan mudah ditaklukkan musuh.

Sebab Ketiga adalah ummat Islam Cinta Dunia dan Takut
Mati.

Nabi Muhammad SAW berkata: "Kamu akan diperebutkan
oleh bangsa-bangsa lain sebagaimana orang-orang yang
berebut melahap isi mangkok makanan. Para sahabat
bertanya, "Apakah saat itu jumlah kami sedikit, ya
Rasulullah?" Beliau menjawab, "Tidak, bahkan saat
itu jumlah kalian banyak sekali tetapi seperti buih
air bah (tidak berguna) dan kalian ditimpa penyakit
wahan." Mereka bertanya lagi, "Apa itu penyakit
wahan, ya Rasulullah?" Beliau menjawab, "Kecintaan
yang sangat kepada dunia dan takut mati." (HR. Abu
Dawud)

Saat ini mayoritas ummat Islam terlalu cinta dunia dan
takut mati. Kebanyakan ummat Islam boleh dikata alergi
terhadap perang. Apalagi ada beberapa boneka kelompok
Barat yang berusaha melenyapkan ajaran jihad dengan
perang dan menggantinya dengan ajaran Damai dan Cinta
meski pada saat ini ummat Islam diserang dan dibunuh
di Afghanistan, Iraq, dan Palestina. Ajaran Jihad pun
berusaha untuk dipersempit sehingga perang tidak
termasuk di situ.

Allah mewajibkan ummat Islam untuk berperang membela
diri dan orang-orang yang dizalimi:

"Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan
membela orang-orang yang lemah baik laki-laki,
wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa:
"Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini
(Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami
pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong
dari sisi Engkau!." [An Nisaa':75]

"Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang
memerangi kamu" [Al Baqoroh:190]

"Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang
itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu
membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan
boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia
amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak
mengetahui." [Al Baqarah:216]

Dalam Islam kita diperintahkan untuk selalu dalam
keadaan siap untuk berperang, sehingga ketika musuh
menyerang, kita tidak terbantai dan terjajah:

"Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa
saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang
ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu)
kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang
orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya;
sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu
nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi
dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya
(dirugikan)." [Al Anfaal:60]

Negara-negara Barat paham mengenai hal ini. Mereka
punya semboyan: "Si Vis Pacem Para Bellum". Agar
bisa damai, kita harus menyiapkan perang. Artinya jika
kita kuat dan siap perang, maka musuh tidak berani
menyerang dan memerangi kita sehingga kita bisa hidup
damai.

Negara-negara Barat maju karena banyak melakukan
peperangan. Dari Eropa, mereka berperang menyerang
penduduk-penduduk di benua Asia, Afrika, Australia,
dan Amerika. Akibatnya saat ini Kanada, Amerika
Serikat, Australia, serta negara-negara Amerika Latin
seperti Meksiko dan Brazil boleh dikata mayoritas
penduduknya dan pemimpinnya berasal dari Eropa.

Negara-negara Barat juga melakukan peperangan baik
dalam perang Dunia I, Perang Dunia II, Perang Korea,
Perang Vietnam, Perang Afghanistan, Perang Iraq, dan
sebagainya. Puluhan juta tentara mereka mati
karenanya. Tapi musuh yang mereka bunuh (di antaranya
ummat Islam) lebih banyak lagi dan mereka berhasil
menguasai sumber daya dan kekayaan negara lain
sehingga bisa maju dan kaya.

Seharusnya ummat Islam harus berani berperang untuk
membela diri. Para ulama dan pemuda Islam yang sadar
juga harus semangat untuk berperang membela
orang-orang yang dijajah:

"Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk
berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar
diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua
ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang
sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat
mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan
orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti" [Al
Anfaal:65]

Saat ini kebanyakan ummat Islam takut untuk mati di
dalam peperangan. Sebaliknya mati ketika tawuran
sekolah, tawuran antar warga, perang Supporter bola,
atau mati terinjak dalam konser jadi hal yang biasa
ketimbang mati syahid di dalam peperangan.

Sebab Keempat mundurnya ummat Islam adalah hilangnya
semangat Jihad. Jihad adalah satu kesungguhan untuk
berjuang di jalan Allah.

Ada hadits dloif yang berusaha memperkecil makna Jihad
sebagai hanya perang melawan hawa nafsu dan bukan
berperang. Padahal jihad adalah perjuangan yang
sungguh-sungguh sehingga bukan hanya harta saja yang
dikorbankan, tapi juga nyawa.

Ayat di bawah menjelaskan orang yang berjihad dengan
harta dan nyawa jauh lebih tinggi derajadnya ketimbang
orang yang tidak ikut berperang:

"Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak
ikut berperang) yang tidak mempunyai 'uzur dengan
orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta
mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang
berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang
yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka
Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah
melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang
duduk dengan pahala yang besar" [An Nisaa':95]

Ummat Islam ketika perang dulu tidak takut mati.
Justru mereka berperang dengan sengit agar bisa mati
syahid dan mendapatkan surga:

"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang
mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga
untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu
mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi)
janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan
Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya
(selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan
jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah
kemenangan yang besar." [At Taubah:111]

Orang-orang kafir heran, ummat Islam bukannya berusaha
menghindari mati, tapi justru berusaha mati di dalam
peperangan. Sehingga mereka begitu fokus menyerang
musuh dan sulit untuk dikalahkan.

Dalam Perang Mu'tah, 3.000 pasukan Muslim dengan
sabar melawan 200.000 pasukan Romawi. Mereka tidak
mundur ketakutan. Justru pasukan Romawi yang mundur
ketakutan karena strategi Panglima Muslim, Khalid bin
Walid. Ketika ada yang mengusulkan untuk minta bantuan
pasukan kepada Nabi, Abdullah bin Rawahah (salah satu
syuhada) berkata: "Demi Allah apa yang tidak kalian
sukai sebenarnya justru yang kita cari, yaitu mati
syahid. Kita tidak berperang karena jumlah, kekuatan,
dan banyaknya personil. Kita perang karena Islam yang
dengannya Allah memuliakan kita. Maka berangkatlah
karena di sana hanya ada 2 kebaikan: Menang atau Mati
Syahid!" (Siroh Nabawiyah, Syaikh Shafiyyurrahman al
Mubarakfury).

Zaid bin Harits, Ja'far bin Abu Thalib, Abdullah bin
Rawahah mati syahid. Total hanya 12 pasukan Muslim
yang mati syahid. Sementara jumlah tentara Romawi yang
gugur lebih banyak lagi.

Ibnu 'Umar yang melihat jasad Ja'far mengatakan
bahwa ada 70 luka karena tikaman dan sabetan di tubuh
Ja'far. Semua di tubuh bagian depan.

Itulah kehebatan semangat Jihad yang dimiliki ummat
Islam. Meski kalah jumlah dan menghadapi Superpower
dunia saat itu, mereka tidak gentar dan menang.

Sesungguhnya Jihad adalah semangat yang membuat ummat
Islam menjadi kuat dan sulit untuk dizalimi, dijajah,
atau dikalahkan. Orang-orang kafir membenci ini dan
berusaha menghapusnya dengan memasukkan berbagai
ajaran/paham sehingga ummat Islam jauh dari jihad.
Misalnya dengan tasawuf, ummat Islam diasyikkan dengan
"mujahadah" sehingga lebih asyik menyepi dan
"berzikir" ketimbang berjihad.

Padahal jihad adalah satu kewajiban:

"Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad
yang sebenar-benarnya.." [Al Hajj:78]

Jihad adalah pintu atau syarat untuk masuk surga:

"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga,
padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang
berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang
sabar." [Ali 'Imran:142]

"Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir,
dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al Quran dengan
jihad yang besar." [Al Furqon:52]

Hanya orang yang munafik/tidak beriman yang tidak mau
berperang dan berjihad:

"Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari
kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu untuk tidak
ikut berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah
mengetahui orang-orang yang bertakwa." [At
Taubah:44]

"Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut perang)
merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang
Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan
harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka
berkata: "Janganlah kamu berangkat (pergi berperang)
dalam panas terik ini." Katakanlah: "Api neraka
jahannam itu lebih sangat panasnya" jika mereka
mengetahui." [At Taubah:81]

Sebab Kelima kemunduran Ummat Islam adalah karena
tidak mandiri di bidang ekonomi. Saat ini secara
ekonomi ummat Islam dikuasai oleh orang-orang kafir.
Ummat Islam bukan sebagai produsen atau penghasil.
Tapi hanya sebagai pembeli/pemakai. Jika orang-orang
kafir mengembargo, maka ummat Islam akan kesulitan.

Sumber daya dan kekayaan alam negara-negara Islam saat
ini dikuasai oleh orang-orang kafir. Minyak, gas,
emas, tembaga, perak, boleh dikata dikelola oleh Multi
National Company (MNC) dari negara-negara Barat yang
perekonomiannya didominasi Yahudi bekerjasama dengan
segelintir pemimpin Muslim yang korup.

Ummat Islam hanya mendapat persentase yang amat kecil.
Sebagai contoh dari minyak saja mereka mengeruk
keuntungan Rp 154 trilyun per tahun. Akibatnya ummat
Islam jadi miskin, sementara orang-orang kafir
bertambah kaya. Ummat Islam sering kesulitan dana
untuk membangun masjid, sekolah-sekolah Islam dan
tidak mampu menyantuni fakir miskin dan anak Yatim.
Banyak anak-anak miskin yang berkeliaran di jalan
mencari makan.

Nabi Muhammad bukan hanya mengadakan boikot terhadap
produk asing. Tapi bahkan melarang orang-orang kafir
masuk ke kota Mekkah. Padahal saat itu perekonomian
masih dikuasai oleh orang-orang kafir. Ketika sebagian
orang Islam ada yang khawatir nanti bisa susah/miskin,
Allah menghibur mereka:

"Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya
orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah
mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini. Dan
jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti
akan memberimu kekayaan kepadamu dari karuniaNya, jika
Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui
lagi Maha Bijaksana." [At Taubah:28]

Justru dengan melarang orang-orang kafir masuk, ummat
Islam malah mandiri di bidang ekonomi dan menjadi
lebih makmur.

Sebagai contoh, jika minyak, gas, emas, tembaga,
perak, dan sebagainya dikelola oleh ummat Islam
sendiri, maka semua keuntungan masuk ke tangan ummat
Islam. Bukan recehan kecil yang hanya nol sekian
persen yang diberikan oleh orang-orang kafir tersebut.

Dengan begitu ummat Islam bisa makmur dan kuat.
Kemiskinan bisa dikurangi.

Sebab Keenam kemunduran ummat Islam adalah ummat Islam
tidak bisa menentukan prioritas (Tertib/urutan
kepentingan) bersama yang harus dikerjakan bersama.

Sering ummat Islam mengerjakan hal-hal yang tidak
penting dan tidak segera ketimbang hal yang sangat
penting dan mendesak.

Padahal berbagai ajaran Islam seperti sholat, haji,
wudlu, dan sebagainya merupakan pendidikan tentang
mengerjakan sesuatu menurut urutan yang benar/tertib.
Ummat Islam harus bisa menentukan mana pekerjaan yang
harus diselesaikan lebih dulu, dan mana yang bisa
dikerjakan kemudian.

Ummat Islam juga sering gagal menentukan musuh mana
dulu yang harus dilawan sekarang dan yang mana bisa
dilakukan kemudian. Sering ummat Islam perang sesama
mereka sementara lawan yang harus diserang seperti
Israel yang menjajah Palestina atau AS yang menjajah
Iraq dan Afghanistan justru aman dari mulut dan tangan
ummat Islam.

Sebagai contoh kita menyaksikan perang Iraq melawan
Iran yang menewaskan 2 juta ummat Islam, kemudian Iraq
melawan Kuwait dan Saudi yang juga menewaskan banyak
korban. Di saat yang sama negara-negara yang berperang
dan mengorbankan nyawa jutaan rakyatnya ini tidak ada
satu pun yang menyerang Israel untuk membebaskan
Masjidil Aqsha.

Nabi Muhammad dan para sahabat tidak pernah ribut
apalagi perang dengan sesama. Bahkan ketika kelompok
munafik Abdullah bin Ubay memecah-belah ummat Islam
sehingga dari 1.000 pasukan Muslim, 300 membelot ke
Abdullah bin Ubay, Nabi tidak memeranginya. Kata Nabi,
jika aku membunuhnya, nanti orang akan berkata bahwa
ummat Islam saling bunuh. Nabi juga menandatangani
perjanjian damai dan kerjasama pertahanan dengan
orang-orang Yahudi untuk menghadapi serangan kaum
kafir Mekkah. Ketika kaum Yahudi berkhianat, baru Nabi
memerangi mereka.

Jadi Nabi Muhammad SAW bertindak cerdas untuk
menentukan lawan yang harus diserang dan mana yang
diajak bekerjasama. Bukan memerangi seluruh dunia.

Sebab Ketujuh mundurnya ummat Islam adalah ummat Islam
gagal menemukan hal yang bermanfaat.

Dari Abu Hurairoh ra, dia berkata: "Rosululloh
sholallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda:
"Sebagian tanda dari baiknya keislaman seseorang
ialah ia meninggalkan sesuatu yang tidak berguna
baginya." (Hadits hasan, diriwayatkan Tirmidzi dan
lainnya)

"Gemarlah kepada hal-hal yang berguna bagimu"
[Muslim]

Negara Barat maju karena banyak menemukan dan membuat
hal yang berguna baik untuk orang lain mau pun diri
mereka sendiri. Mereka membuat mobil dan kapal terbang
sehingga orang bisa bepergian dengan cepat dan nyaman.
Mereka membuat handphone dan telepon sehingga orang
bisa berbicara dengan saudara dan temannya meski
terpisah jauh sekali. Mereka membuat berbagai
peralatan yang bermanfaat bagi kita semua seperti
vacuum cleaner dan sebagainya.

Dengan menggemari hal yang bermanfaat, mereka
memberikan manfaat bagi orang lain dan diri mereka
sendiri.

Sebab kedelapan adalah ummat Islam tidak menguasai
media massa. Akibatnya ketika Islam dicitrakan sebagai
teroris dan hukum Islam dilecehkan, ummat Islam tidak
bisa berbuat apa-apa. Bahkan tidak jarang ummat Islam
diadu-domba dengan berbagai pemberitaan di media
massa.

Memang ummat Islam punya media cetak dan radio meski
pembacanya tidak sebanyak media yang dimiliki oleh
kelompok non Muslim dan sekuler. Contohnya di
Indonesia oplah majalah Islam hanya 100 ribu atau
kurang dengan pembaca kurang dari 500 ribu orang.
Kurang dari 0,3% dari total penduduk Indonesia.

Bahkan untuk TV Nasional yang dapat menjangkau 200
juta penduduk Indonesia, tidak ada TV yang dimiliki
oleh ummat Islam. Semuanya dimiliki kelompok Non
Muslim atau sekuler. Bahkan 2 di antara TV Nasional di
Indonesia dikuasai oleh Konglomerat Media Yahudi:
Rupert Murdoch.

Di dunia boleh dikata media massa dikuasai oleh Non
Muslim. Media massa terkemuka seperti TV CNN, majalah
Time, New York Time dikuasai oleh mereka. Begitu pula
dengan Hollywood yang film-filmnya ditonton jutaan
orang. Tak jarang di film tersebut selain
dipropagandakan gaya hidup sex bebas juga ummat Islam
digambarkan sebagai teroris.

Padahal media massa sangat penting untuk menyampaikan
berita. Mukjizat terbesar Nabi Muhammad adalah Al
Qur'an yang artinya "Bacaan" atau informasi.
Salah satu tugas utama Nabi adalah menyampaikan
berita:

"Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang
mukmin bahwa sesungguhnya bagi mereka karunia yang
besar dari Allah." [Al Ahzab:47]

"Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad)
dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan
pemberi peringatan" [Al Baqarah:119]

"Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi,
pembawa berita gembira dan pemberi peringatan" [Al
Fath:8]

Tentu saja untuk menyampaikan berita itu kepada
masyarakat luas diperlukan berbagai media. Nabi
melakukannya dengan berpidato ke masyarakat luas,
dakwah dari mulut ke mulut, menyampaikan utusan, dan
juga mengirim surat.

Tak jarang banyak berita yang memojokkan ummat Islam
dan justru membela aliran-aliran sesat. Ini karena
media massa dikuasai kelompok yang tidak senang dengan
Islam. Oleh karena itu ummat Islam harus menguasai
media massa agar ummat Islam bisa mendapatkan berita
dari sumber yang benar. Bukan berita dari orang-orang
fasik yang memojokkan Islam:

"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu
orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah
dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah
kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang
menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu." [Al
Hujuraat:6]

Tentu saja kekurangan dana menyebabkan ummat Islam
tidak dapat menguasai media massa. Tapi dengan media
massa juga ummat Islam sebetulnya bisa menggalang
dana.

Untuk itu Islamic Broadcasting Forum
(www.islamicbroadcasting.wordpress.com) dengan
keterbatasan dana yang dimiliki berusaha mengembangkan
TV Komunitas yang biayanya berkisar Rp 50-500 juta per
TV agar dakwah Islam bisa lebih luas. Tentunya ini
tidak akan berhasil jika tidak dilakukan secara
berjama'ah oleh seluruh ummat Islam.

Rujukan:

Mengapa kaum muslimin mundur/ Al-Amir Syakib Arsalan,
Bulan Bintang Jakarta, cet.5,1985.

Tidak ada komentar: