Sabtu, 21 Februari 2009

KEJAWEN ? (2)

Pun saling bernegosiasi memperjuangkan kepentingan masing,hasilnya?
Lahirlah budaya sesaji untuk tolak bala,atau dalam istilah alam ghaib
manusia telah mengirim upeti, sebagai imbalannya makhluk ghaib pun
tidak akan mengganggu ketentraman hidup manusia. Bila proses pemberian
sesaji ini berlangsung terus,terjadilah ketergantungan yang sebenarnya
saling mengancam. Apa jadinya bila manusia yang biasa memberi
sesaji,suatu saat tidak memberi sesaji,dalam sugesti mereka tertanam
pemahaman bahwa membatalkan sesaji berarti membuka pintu kemarahan
mereka. Sehingga kalau terjadi bencana setelah pembatalan sesaji
dianggap ada kaitannya dengan kemarahan penghuni alam ghaib. Di
sinilah kemudian terjadi ketidakselarasan dalam kehidupan makrokosmos
dan mikrokosmos. Benarkah pemahaman seperti ini? Kalau ditinjau dari
akidah syariah islam yang sebenarnya,jelas bahwa pandangan kejawen
sangat keliru,apalagi bila dikaitkan Apabila dikaitkan dengan
kedudukan manusia sebagai kholifah di muka bumi ini. Oleh ALLAH
manusia diberi kedudukan yang mulia dibandingkan dengan makhluk
lainnya untuk menguasai dan mengelola bumi fngan segala isinya. Dengan
akal fikirannya manusia dapat menjawab semua tantangan dan kesulitan
hidup yang dihadapinya,maka lahirlah teknologi,dan dengan bimbingan
wahyu manusia dapat mengenal Tuhannya dan memahami hak hak dan
kewajibanya,bahkan dengan tegas agama islam mengharamkan ketundukan
manusia dengan makhluk lainnya,terlebih dari bangsa jin,baik
ketundukan secara fisik maupun secara spiritual dengan melakukan
ritual ritual seperti persembahan sesaji misalnya,karena ketundukan
kita pada mereka menyeret kita pada kesyirikan,dimana mengakui
kekuatan lain yang bisa mengatur,memberi berkah dan keselamatan bahkan
kecelakaan disamping kekuatan kita. Itulah sekilas fenomena kejawen
dimana manusia menempatkan unsur unsus kekuatan ghaib yang harus
dihormati dan dijaga eksistensinya.

Tidak ada komentar: